• Selamat datang di blog Nurul Islam

    Kami ucapkan terima kasih kepada semua pengunjung blog nurul islam wanayasa-purwakarta, blog ini sebagai inspirasi kami terhadap pentingnya pendidikan anak. Anda bebas menulis apapun di blog ini yang berkenaan dengan Pendidikan Anak. Jika anda belum mempunyai blog, anda boleh mengklaim blog ini sebagai blog anda sendiri...

  • Artikel

    Ayo..... budayakan MENULIS, Kegiatan sederhana yang sudah diajarkan sejak kita masuk Sekolah Dasar , dari kegiatan yang sederhana ini banyak sekali manfaat positif yang bisa diraih. Menulis membuat otak kita terus mengeluarkan ide-ide kreatif, lewat tulisan segala hal yang ada di dalam benak dan pikiran bisa mendapat penyaluran. Banyak Inspirasi dan ide-ide segar yang mungkin tidak bisa di aktualisasikan lewat media lain tetapi bisa disalurkan lewat kegiatan menulis dan menjadi sebuah karya tulis. ......

  • Sekilas tentang Nurul Islam

    TAAM/PAUD-TKA-TPA-MDTA Nurul Islam, berdiri sejak tahun 1991 beralamat di Desa. Babakan Kec.Wanayasa Kab. Purwakarta. Sejauh ini Nurul Islam sudah memiliki santri 150 yang berasal dari pedesaan dan perkampungan yang cukup jauh dari perkotaan. Dengan motivasi guru berjumlah 10 orang Nurul Islam tetap eksis dan terus peduli terhadap pendidikan anak (usia PAUD,TK,SD).......

  • Prestasi yang pernah diraih

    Al-Hamdulilah dari berbagai kegiatan yang pernah diikuti selama berdirinya lembaga pendidikan ini, Nurul Islam selalu aktif dan tetap eksis dengan mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksankan oleh Diknas ataupun Depag dan Organisasi lain yang terbentuk dalam suatu wadah kependidikan. Banyak sekali prestasi yang pernah diraih Nurul Islam selama berdiri, diantaranya pada tahun 2010 Nurul Islam mengikuti lomba Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) Tingkat TAAM/ PAUD, TKA, TQA, TPA se-Kab. Purwakarta yang diselenggarakan oleh LPPTKA BKPRMI Kab. Purwakarta pada tanggal 17 April 2010 dan meraih juara umum......

  • Galeri

    Kumpulan galeri photo kegiatan TAAM/PAUD, TKA, TPA, DTA Nurul Islam......

---------------------- CERDAS, KREATIF, MANDIRI, BERPRESTASI -----------------------

---------------------- CERDAS, KREATIF, MANDIRI, BERPRESTASI -----------------------

Quotes Nurul Islam Wanayasa Purwaarta

Posted by Pro Aktif On 9/25/2018

 
 
 
 
 

 
 
 
 
 

Kegiatan Pentas Kreasi Seni Santri - Bazar Ramadhan Masjid Besar Al-Jihad Wanayasa

Posted by Pro Aktif On 9/25/2018

Video Kegiatan Manasik Haji TPA-DTA FKDT Kec. Wanayasa Kiarapedes

Posted by Pro Aktif On 9/25/2018


Video Kegiatan Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah

Posted by Pro Aktif On 9/25/2018


Anak Juga Bisa Stres, Penyebabnya Perilaku dari Orangtuanya sendiri, Ini 9 Penyebabnya

Posted by Pro Aktif On 9/19/2018


Santri TKA Nurul Islam sedang bermain

Orang dewasa umumnya terserang stres. Stres karena masalah pekerjaan, keungan dan lainnya. Selain orang orang dewasa, Anak-anak pun bisa. Biasanya orang dewasa terserang stres karena masalah pekerjaan, keuangan dan lainnya. Bagaimana dengan anak, apa pemicu stres mereka?

Faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri. Beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres.

ORANGTUA TIDAK MENYADARI BAHWA KATA-KATA MOTIVASI YANG DIBERIKAN JUSTRU MEMBEBANI ANAK


Orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres.

Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama pada balita, hanya akan menyerap kata-kata yang terdengar, dan belum bisa memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa.

MELARANG ANAK MENANGIS YANG MEMBUAT MEMBUAT ANAK SELALU MENAHAN TANGISNYA, DAN MEMENDAM PERASAAN SEDIHNYA


Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda dan kemudian menangis. Jika yang mengalaminya adalah anak laki-laki, orangtua pasti akan melarangnya menangis diiringi pesan, “Kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng”, atau “Kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya.”

Sekilas, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, karena tujuannya agar anak untuk tidak cengeng. Namun, ketika diserap oleh otak anak, kalimat ini akan memiliki arti yang berbeda. Kalimat tersebut akan diterima sebagai sebuah perintah, yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa.

Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres.

ORANGTUA YANG PLIN-PLAN AKAN MEMBUAT ANAK KEBINGUNGAN, DAN AKHIRNYA STRES KARENA ORANGTUANYA TIDAK KONSISTEN


Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan.

HATI-HATI, BANYAK ORANGTUA YANG SECARA TAK SADAR MEMBEDA-BEDAKAN ANAKNYA


Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan.

HATI-HATI JUGA DENGAN LABELING PADA ANAK, ITU MEMBUAT TERTEKAN DAN TERLUKA SECARA BATIN


Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan orangtua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Hati-hati, labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa.

TERLALU SERING MELARANG KARENA MEMBUAT ANAK MENJADI STRES KARENA MEREKA TIDAK BEBAS UNTUK MELAKUKAN APAPUN


Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata “jangan” dan “tidak” ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun.

TERKADANG ORANGTUA MENERAPKAN PERATURAN KAKU TANPA MEMBERIKAN PENJELASAN KEPADA ANAK


Mungkin orangtua bermaksud agar anak dapat belajar menjadi disiplin. Kenyataannya, anak akan merasa sangat diatur dan tidak bisa mengembangkan diri. Sebaiknya buat aturan dan berikan penjelasan, bila perlu orangtua segera mendiskusikan berbagai aturan bersama-sama.

HATI HATI, JANGAN MENUNTUT KESEMPURNAAN DILUAR BATAS KEMAMPUAN ANAK

Memiliki ambisi pada sebuah tujuan memang hal yang baik, namun jika proses pencapaian itu sendiri tak pernah dihargai dan anak hanya mengedepankan kuantitas. Hal ini tidaklah baik untuk psikologisnya, bukan tidak mungkin saat anak beranjak dewasa ia akan melakukan apa saja asalkan apa yang telah menjadi targetannya bisa ia raih.

Menuntut anak dengan ‘keras’ hanya akan membuatnya stress dan trauma. Untuk itu, berikan kesempatan pada anak untuk mencoba-coba terlebih dahulu apa yang menjadi hobinya, dengan begitu seiring berjalannya waktu, ia akan mulai memaknai bahwa prestasi juga perlu diperhitungkan.

source : sayangianak.com

9 Hal yang Perlu Dihindari Dalam Pembentukan Pribadi Anak

Posted by Pro Aktif On 12/11/2017


Menjadi orang tua dari seorang anak yang sudah menginjak usia balita sepertinya gampang-gampang susah ya. Saat anak masih balita, orang tua menjadi sangat toleran terhadap kondisi tertentu, namun adakalanya ketika beberapa anak sangat nakal orang tua akan kesulitan dalam menemukan situasi untuk menghadapinya dan bahkan tak jarang anda dibuat pusing bagaimana menemukan solusi yang tepat untuk mendidik anak balitanya.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa menjadi orang tua bukanlah perkara yang mudah, anda sebagai orang tua dituntut untuk menghasilkan anak yang mandiri dan penuh dengan tanggung jawab. Kesalahan kecil dalam mendidik anak bisa berakibat fatal yang juga dapat berakibat pada pola hidup dan kebiasaan anak itu sendiri.
Selain itu, anak balita belum dibekali kemampuan untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga anak cenderung akan meniru dan mengadopsi cara-cara dan perilaku yang sering terjadi di kehidupannya. Untuk itulah, mengapa lingkungannya harus senantiasa dijaga. Bisa anda bayangkan, akan seperti apa jadinya jika lingkungan tempat anak anda tumbuh dipenuhi dengan hal-hal negative seperti halnya lingkungan yang ‘keras’. Meski tak selalu demikian, namun lingkungan memang amat berpengaruh pada kehidupan anak berikutnya, termasuk bagaimana pola orang tua dalam hal mendidik anak.
Perbedaan akan terlihat mencolok pada anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan penuh cinta dengan anak yang selalu mendapatkan pola didikan ‘keras’ dari orang tuanya. Sayangnya, tak banyak orang tua yang tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anakpun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan. Untuk lebih mengenalkan bagaimana pola lingkungan yang baik untuk mendidik anak, berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat mendidik anak :

1. Menuntut Kesempurnaan Diluar Batas Kemampuan Anak

Sikap anda dalam menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang pada umumnya berada diluar kemampuan dan jangkauan wajar yang dimiliki anak anda, hanya akan melahirkan anak yang terlalu berambisi pada semua hal. Memiliki ambisi pada sebuah tujuan memang hal yang baik, namun jika proses pencapaian itu sendiri tak pernah dihargai dan anak hanya mengedepankan kuantitas. Hal ini tidaklah baik untuk psikologisnya, bukan tidak mungkin saat anak beranjak dewasa ia akan melakukan apa saja asalkan apa yang telah menjadi targetannya bisa ia raih. Selain itu, menuntut anak dengan ‘keras’ hanya akan membuatnya stress dan trauma. Untuk itu, berikan kesempatan pada anak untuk mencoba-coba terlebih dahulu apa yang menjadi hobinya, dengan begitu seiring berjalannya waktu, ia akan mulai memaknai bahwa prestasi juga perlu diperhitungkan.

2. Mengancam

Menghadapi anak yang sedikit susah diatur memang memusingkan bahkan tak jarang hal itu justru sedikit menjengkelkan. Namun perilaku mengancam meski secara halus maupun kasar tidak dibenarkan. Misalkan menghadapi anak yang sulit mengunyah makanan dengan menakuti bahwa giginya bisa ompong dan sebagainya hanya akan berdampak buruk. Mengancam dengan nada halus maupun tinggi tidak akan menyelesaikan masalah. Ancaman memang efektif agar membuat anak mau menuruti semua perintah kita, namun hal itu hanya bersifat sementara. Karena didasari pada rasa takut bukan kesadaran anak semata. Dan kelak jika si anak sudah mulai mengerti ia akan merasa dibohongi.

3. Waspadai Perilaku Anda

Anak-anak cenderung akan meniru segala perilaku yang dilakukan oleh orang tuanya. Perilaku anda seperti berbicara dan berperilaku semuanya akan ditiru oleh anak. Untuk itu, sebaiknya lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak ketika berada dihadapan buah hati. Salah-salah, mereka akan malah meniru semua perilaku anda termasuk dengan kebiasaan buruk anda.

4. Terlalu Menekan

Sikap terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginan dan jalannya sendiri atau mengembangkan minat dan bakatnya pada bidang yang mereka cintai. Akan berakibat pada psikologisnya seperti akan menjadi lamban, tidak memiliki pendirian, selalu bekerja sesuai perintah layaknya robot, dan bukan tak mungkin menjadikan anak menjadi suka melawan saat ia mulai bisa membela diri nanti. Untuk itu, akan lebih baik jika anda memberikan kesempatan anak untuk memilih bidang mana yang mereka sukai. Misalkan saat anak senang mencoret-coret berikan kesempatan untuknya untuk menikmati hobinya tersebut dari sana anda bisa mulai mengarahkannya pada kegiatan melukis yang mana bakat tersebut akan berguna untuk hidupnya kelak.

5. Terlalu Lemah

Terkadang saat anak rewel menginginkan sesuatu anda cenderung akan mengalah dengan memberikan apa yang mereka inginkan meskipun hal tersebut akan sedikit merepotkan anda. Namun pola didik seperti ini sebenarnya menyalahi aturan. Anak-anak diusia balita belum mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi penuntut, cenderung egois, impulsive (gampang melakukan tindakan tanpa melalui perhitungan panjang), dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Untuk itulah, peran dan pola asuh orangtua yang baik amat dibutuhkan pada fase ini. Namun bukan berarti anda harus keras terhadap anak, hal yang paling penting untuk menumbuhkan kesadaran anak adalah sikap tegas anda terhadap anak.

6. Melanggar Janji

Saat anda membuat janji pada anak kecil jangan pernah sesekali menganggapnya sebagai hal yang sepele dan bisa dilanggar karena mereka masih kecil. Anak di usia dini justru akan mengerti dengan lebih baik daripada yang anda bayangkan. Mereka akan mengerti apakah anda menunjukkan prioritas atau tidak terhadap mereka. Untuk membentuk pribadi anak yang lebih baik, ada baiknya jika anda juga menepati apa yang sudah anda janjikan pada anak.

7. Ucapan Kasar

Di usia balita, si kecil akan mulai belajar mencontoh apa yang ia dengar dari orang-orang sekitar dan lingkungannya. Mereka akan menyerap apa yang mereka dengar dan saksikan dengan tanpa menyaring mana hal baik dan hal buruk. Untuk itu, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata kasar di depan anak. Terkadang orang tua lepas kendali dengan melepaskan kata-kata yang kurang pantas saat marah. Namun, akan lebih baik jika anda tidak menyebutkannya di depan anak.

8. Mendorong Anak Terlalu Keras

Dukungan dan dorongan memang penting diberikan pada buah hati agar anak terpacu dan termotivasi untuk melakukan beragam hal yang positif. Namun ada hal yang harus anda waspadai adalah ‘mendorongnya’ secara berlebihan. Mungkin saat teman-teman seusianya bisa melakukan sesuatu, hal yang sama juga ingin dipaksakan pada anak sendiri. Alih-alih anak menjadi termotivasi, mereka malah akan tertekan dan depresi dibuatnya. Untuk itulah, sebaiknya sesuaikan porsi prestasi dengan kemampuan si kecil agar ia tidak terlalu terbebani.

9. Terlalu Memanjakan Anak

Menghujani anak dengan terus-menerus membelikannya barang-barang mewah dan mahal atau memberikannya pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Hanya akan melahirkan anak dengan pribadi yang gampang bosan, kurang memiliki daya juang, dan kurang inisiatif. Untuk itulah, cukupkan pelayanan dengan apa yang dibutuhkan anak, sebelum ia terbiasa dengan perilaku anda yang ‘memanjakannya’.

Di usia balita anak-anak akan mulai menyerap segala informasi dan juga meniru segala tindakan dari orang-orang disekitarnya. Tentu ini masa-masa dimana seharusnya para orangtua memberikan bimbingan dan dituntut untuk lebih berhati-hati dalam bersikap.


sumber : bidanku.com

Nurul Islam Raih Prestasi Diajang Festival Hafidz Indonesia (FHI)

Posted by Pro Aktif On 12/11/2017


Dalam rangka Hari Amal Bhakti dan mempererat tali silaturahim dilingkungan PD Pontren Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta menggelar kegiatan lomba Festival Hafidz Indonesia (FHI) untuk tingkat TKQ dan TPQ se-Kabupaten Purwakarta, adapun kegiatan yg dilombakan diantaranya : lomba mewarnai, puitisasi, senam, tahfidz, tahsinul kitabah, nadzom, gerak dan tari. Kegiatan diikuti oleh santri TKQ/TPQ kurang lebih 1500 peserta, bertempat di MTS Negeri Purwakarta (Minggu, 11/12/2017), dan ini merupakan pertama kali Kementrian Agama Kabupaten Purwakarta menyelenggarakan lomba FHI.
Nurul Islam meraih beberapa piala dari ajang tersebut diantaranya :
Juara 6 mewarnai, Juara 2 puitisasi putra, Juara 2 puitisasi putri, Juara 3 Senam, Juara 2 Tahfidz Putra, Juara 1 dan 2 Tahsinul Kitabah, Juara 3 Gerak dan Tari, Juara 2 nadzom, Juara 1dan 2  puitisasi putra.

“Menjadi suatu kebanggaan bagi kami meraih prestasi tersebut, dan mudah-mudahan ini menjadi motivasi anak-anak kami untuk terus berkarya”, ungkap kepala sekolah TKQ/TPQ Nurul Islam Imas Syarifatul Mudrikah, S.Pd pada saat ditanya oleh admin web Nurul Islam.
Harapan kedepan, semoga Nurul Islam tetap memberikan yang terbaik untuk santrinya demi mencerdaskan generasi umat yang handal mampuh bersaing di era globalisasi dengan bekal iman dan akhlakul karimah. Red*


Santunan Anak Yatim, Yayasan Nurul Islam Al Arif Wanayasa 1439 H

Posted by Pro Aktif On 10/03/2017

Dalam rangka memperingati hari besar islam (PHBI) Muharam 1439 H dan implementasi program lembaga Yayasan Nurul Islam Al-Arif Wanayasa Purwakarta mengadakan santunan untuk anak-anak yatim dan dhu'afa. sejumlah 25 anak yatim diundang khusus untuk menghadiri kegiatan tersebut, mereka dibina dan dibimbing dengan ilmu agama dengan tertib. 
Santunan ini adalah bagian dari program tahunan yayasan bekerjasama dengan para orang tua santri TKA, TPA, DTA dan Majlis Ta'lim Nurul Islam. Terlihat dari raut wajah anak-anak yatim penuh kebahagian, penuh keceriaan, dan itulah yang kami harapkan, meskipun mereka sudah tidak memiliki orang tua, namun sebagai bentuk solidaritas rasa empati kami tetap ada untuk mereka, semoga mereka menjadi generasi umat yang sholeh, sholehah, berbakti kepada negara dan agama.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberikan kontribusinya untuk mereka, infaq, shodaqoh, jariah, semoga amal baik kita diterima Allah SWT, aamiin.

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian

Posted by Pro Aktif On 7/21/2017



Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “Personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian manusia ada 4, yaitu :
1. Koleris: tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguin: tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Plegmatis: tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis: tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, perfeksionis, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.
Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke 4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing.
Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah diajak untuk serius, plegmatis seringkali susah diajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilema pribadi “iya” di mulut dan “tidak” di hati, serta cenderung perfeksionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.

Mengapa kita perlu mengenali tipe kepribadian? Karena kepribadian adalah dasar dari pembentukan karakter seseorang, dan pada bagian inilah seseorang memiliki kecenderungan untuk merespon terhadap segala sesuatunya.

Setiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di setiap aspek kehidupan sosial dan pribadi masing-masing.
Nah, karakternya dimana? Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya, memperbaiki kelemahannya, dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter.
Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya, seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah karakter.
Pendidikan karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu dibina sejak usia dini.
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli, dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar, hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
Banyak kami perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain, atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter anda tidaklah demikian. Karakter anda selalu merupakan hasil pilihan anda.

Ketahuilah bahwa anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang anda hargai dalam kehidupan ini.
Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki kontrol penuh atas karakter anda, artinya anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter anda yang buruk karena anda yang bertanggung jawab sepenuhnya. Mengembangkan karakter adalah tanggung jawab pribadi anda.
semoga bermanfaat :)

sumber : pendidikankarakter.com

Manfaat Mewarnai dan Menggambar Bagi Anak

Posted by Pro Aktif On 2/13/2017


Aktivitas mewarnai dan menggambar sama-sama merupakan buah dari pembelajaran dan penghayatan seorang anak. Keduanya berfungsi untuk membantu mengembangkan kecerdasan otak anak, khususnya untuk melatih otak kanan dalam bidang seni. Namun keduanya memiliki hasil akhir (output) yang berbeda. Kalau mewarnai menghasilkan suatu kreasi warna sedangkan menggambar menghasilkan suatu bentuk sesuai imajinasi anak.


Mewarnai dan menggambar sangat baik bila diperkenalkan sejak dini oleh anak usia pra sekolah. Tetapi yang harus kita ingat, jangan pernah melarang anak untuk mengkreasikan imajinasinya. Baik dalam segi pewarnaan maupun dalam menggambarnya. Misalnya ketika anak menggambar bola yang bentuknya kotak sekalipun, jangan dilarang, dimarahi atau didikte. Biarkan imajinasinya berkembang sendiri. Sebaiknya beri penghargaan terlebih dahulu kemudian gali alasannya kenapa ia memilih warna itu dan menggambar bentuk itu. Kita akan takjub dan kagum mendengarnya karena jawaban mereka merupakan cerminan dari imajinasinya.
Pada tahap awal agar anak mendapatkan hasil yang lebih baik, kita dapat mengarahkan mereka untuk belajar mewarnai terlebih dahulu. Kemudian pada tahap selanjutnya baru mengarahkan anak untuk menggambar.
Mewarnai
Menurut Femi Olivia dalam bukunya Gembira Bermain Corat-Coret, mewarnai merupakan suatu bentuk kegiatan kreativitas, dimana anak diajak untuk memberikan satu atau beberapa goresan warna pada suatu bentuk atau pola gambar, sehingga terciptalah sebuah kreasi seni.
Ada banyak manfaat mewarnai bagi anak, yaitu :
  • Melatih anak mengenal aneka warna dan nama-nama warna
  • Melatih anak untuk memilihi kombinasi warna dan membantu anak untuk belajar keserasian dan keseimbangan warna
  • Stimulasi daya imajinasi dan kreativitas
  • Melatih mengenai objek sehingga anak memahami detail objek yang akan diwarnai terlebih dahulu sebelum mereka mewarnai
  • Melatih anak membuat target. Proses mewarnai membutuhkan satu target yaitu berhasil mewarnai seluruh bidang gambar yang tersedia. Jadi anak belajar untuk menyelesaikan tugas yang dihadapinya sesuai target.
  • Melatih anak mengenal garis batas bidang.
  • Dimasa awal ketika anak memulai aktifitas mewarnai, mereka tidak akan peduli dengan garis batas gambar dihadapannya. Hal tersebut wajar-wajar saja, biarkan anak merasa nyaman dan excited terlebih dahulu dengan aktivitas mewarnainya
  • Melatih keterampilan motorik halus anak sebagai salah satu sarana untuk mempersiapkan kemampuan menulis
  • Melatih kemampuan koordinasi antara mata dan tangan. Mulai dari bagaimana cara yang tepat menggenggam krayon, hingga memilih warna dan menajamkan krayon.

  • Mengembangkan kemampuan motorik
    Aktivitas mewarnai merupakan aktivitas yang dapat membantu meningkatkan kinerja otot tangan sekaligus mengembangkan kemampuan motorik anak. Kemampuan tersebut sangat penting dalam perkembangan aktivitasnya kelak, seperti dalam mengetik, mengangkat benda dan aktivitas lainnya dimana dibutuhkan kinerja otot lengan dan tangan dalam prosesnya
    Melatih konsentrasi dan ketahanan mental terhadap lingkungan.
    Aktivitas mewarnai dapat melatih konsentrasi anak untuk tetap fokus pada pekerjaan yang dilakukannya meskipun banyak aktivitas lain yang terjadi disekelilingnya. Seorang anak yang sedang menyelesaikan tugas mewarnai akan fokus pada lembar gambar yang sedang diwarnainya, sehingga sekalipun pun di sekelilingnya ribut dengan aktivitas anak-anak lain, ia akan tetap fokus menyelesaikan tugas mewarnainya. Dalam mewarnai, anak juga dilatih konsentrasinya agar tidak melewati garis yang membentuk objek yang diwarnai.
    Hal yang harus selalu kita ingat, bahwa ketika anak sedang mewarnai biarkan mereka bebas menentukan sendiri warna apa yang diinginkannya. Jangan mendikte anak sehingga membuat mereka merasa tertekan dan kehilangan semangat. Terkadang ada pula anak yang menjadi mogok mewarnai karena mendengar respon negatif dari orangtuanya. Misalnya “warnanya jangan keluar garis dong”, “kertasnya jangan sampai kotor”, “Punya kakak lebih bagus, adik juga dong” atau “jangan berantakan kasih warnanya.”
    Bila kita lihat pemberian warna anak kurang rapi dan kurang rata, berilah dukungan pada mereka. Hargai hasil karyanya dengan memberikan pujian agar mereka lebih semangat. Kemudian kita berikan contoh padanya bagaimana cara memegang krayon supaya warnanya lebih rata. Atau kita juga dapat mewarnai bersama dengan anak sehingga mereka merasa nyaman dan senang melihat orangtuanya juga mau melakukan kegiatan tersebut. Kita juga dapat memotivasi anak untuk mengulang mewarnai kembali supaya hasilnya lebih baik dan rapi. Bila anak tidak mau, jangan kita paksa.
    Menggambar
    Menurut wikipedia menggambar merupakan kegiatan membentuk imaji, dengan menggunakan banyak pilihan teknik dan alat. Yang sering digunakan adalah pensil grafit, pena, kuas tinta, pensil warna, crayon, pensil konte, dan spidol. Bisa pula dengan peralatan digital seperti stylus, mouse, atau alat lain yang menghasilkan efek sama seperti peralatan manual. Media permukaan yang sering digunakan adalah kertas, meskipun tidak menutup kemungkinan pula digunakannya media lain seperti kain, permukaan kayu, dinding, dan lain-lain.
    Manfaat yang dapat diperoleh anak lewat aktivitas menggambar adalah sebagai berikut :
    • Stimulus minat belajar bagi anak (proses perkembangan aspek kognitif)
    • Mengekpresikan bentuk-bentuk emosi yang dirasakan anak dan disalurkan dalam bentuk gambar
    • Melatih gerak tangan untuk menghasilkan bentuk atau gambar yang lebih baik (kecerdasan motorik halus anak)
    • Proses pembelajaran anak untuk mengungkapkan apa yang ada dipikirannya saat itu, menuangkan idenya, memvisualisasikan dan merealisasikan imajinasinya dalam sebuah karya seni
    • Stimulus anak untuk aktif bertanya tentang ini dan itu
    • Membantu meningkatkan konsentrasi
    • Melatih daya ingat
    • Melatih kesabaran, ketelitian dan keuletan anak dalam menghasilkan sesuatu

    Mengenalkan aktivitas menggambar sebaiknya disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Idealnya pada usia 3 tahun anak mulai dikenalkan dengan aktivitas ini. Carilah bentuk gambar sederhana untuk diperkenalkan kepada anak. Misalnya bentuk lingkaran atau garis lurus. Kemudian perlahan seiring dengan perkembangan dan usia anak, perkenalkan bentuk-bentuk dan gambar lain yang lebih kompleks. Jangan memarahi, mendikte dan mengkritik anak bila gambar mereka masih berantakan dan belum proporsional. Seiring dengan waktu kemampuan anak akan menjadi lebih baik. (*)
    Sumber :
    Femi Olivia. Gembira Bermain Corat-coret. Jakarta : Kompas Gramedia. 2013
    http://id.wikipedia.org/wiki/Menggambar
    http://darunnajahkindergarten.com/2011/manfaat-mewarnai/

Video Profile Yayasan Nurul Islam Al-Arif Wanayasa

Posted by Pro Aktif On 2/13/2017

Berikut adalah video sekilas tentang yayasan nurul islam al-arif wanayasa yang bisa anda lihat dan download melalui youtube, semoga bermanfaat.

Bahaya Ancaman Bagi Anak

Posted by Pro Aktif On 2/12/2017



Untuk menjadi patuh, tak jarang orangtua mengancam anaknya. Perilaku anak mungkin hilang atau berubah sesuai harapan mereka. Tapi bagaimana dengan dampak jangka panjangnya? Apa bahaya ancaman bagi anak?

Apakah Ayah/Bunda pernah mengancam si kecil? Apa reaksi mereka?

Apakah Ayah/Bunda sering atau intens mengancam si kecil? Bagaimana dampaknya?

Tidak jarang orangtua mengancam anaknya ketika bertindak tidak seperti yang diharapkan. Bahkan orangtua yang memahami pengasuhan sekalipun, kadang tanpa disadari mengancam anaknya. Saat kondisi terdesak dan kesabaran mulai menipis, kata-kata keras bernada ancaman kadang tak bisa dihindari. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan. Lantas, apakah anak menjadi berubah?

Ancaman difungsikan sama seperti hukuman, yaitu untuk menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan. Kenapa kok difungsikan sama? Karena secara alamiah, ancaman juga punya efek yang sama seperti hukuman, yaitu menghilangkan perilaku tertentu. Namun ada kesamaan sifat yang mungkin tidak kita sadari, yaitu bersifat spesifik. Apa maksudnya?

Ancaman atau hukuman memiliki area jangkauan yang terbatas, baik dalam hal tempat maupun waktu. Maksudnya, ancaman atau hukuman hanya berfungsi menghilangkan perilaku spesifik. Hukuman atau ancaman akan menjadi tidak efektif jika diperuntukkan bagi perilaku yang lebih general. Sebuah ancaman atau hukuman akan lebih efektif untuk menghilangkan perilaku memukul dibandingkan untuk menghilangkan perilaku menyakiti orang. Coba bandingkan dengan sifat alamiah dari hadiah (reward/insentif). Pembahasan selanjutnya akan kita fokuskan kepada ancaman.

Selain berkenaan dengan efek ancaman dalam hal wilayah jangkauan, ancaman juga memiliki dampak jangka panjang. Dampak ini bervariasi, tergantung bagaimana karakteristik dari anak yang mendapatkan ancaman.

1. Anak akan menjadi pengancam

Efek ini terjadi pada anak secara umum. Sifat alamiah anak adalah mencontoh. Cara belajar paling dasar pada diri anak adalah dengan mengamati. Ketika orangtua atau atmosfir keluarganya banyak mengacam atau berkata-kata keras bernada ancaman, maka anak juga akan melakukan hal yang sama, terutama kepada teman atau orang lain yang lebih mudah (termasuk adik).

2. Anak akan menjadi kompulsif

Untuk anak yang inverior, jika intens mendapatkan ancaman, maka dia akan menjadi super was-was. Dia akan mengantisipasi secara berlebihan, karena takut dengan ancaman. Karena itu, dia akan sering mengecek dan mengecek ulang segala perilakunya, baik yang akan maupun yang telah dilakukan. Anak menjadi serba salah.

3. Anak akan menjadi tricky

Ketika mendapatkan ancaman, maka akan akan berusaha menyeimbangan kondisi emosinya, sehingga tetap merasa nyaman seperti semula. Karena itu, anak berada diantara sikap takut melawan ancaman dan kebutuhan melawan agar dirinya tetap merasa nyaman. Maka kata-kata moderat yang dipilih adalah dengan melakukan trick, misalnya mengatakan, “Lho, maksud saya bukan begitu memang…”, “Kan itu tidak sengaja…” dan semacamnya. Dalam jangka panjang, sangat mungkin anak akan menjadi pembohong.

4. Anak akan menjadi tidak percaya diri

Ancaman akan menekan batin anak. Tekanan ini akan mengerdilkan jiwanya. Jika dilakukan secara intens, maka anak akan menjadi tidak percaya diri.

5. Anak akan menjadi pemarah

Untuk anak yang pemberani, maka ia akan balik menyerang. Jika orangtua mengancam dengan kata-kata keras, maka anak akan belajar. Efek ini hampir serupa dengan efek nomor 1. Hanya saja, yang dipelajari oleh anak bukan ancamannya, tetapi cara mengungkapkan ancaman itu, yaitu dengan marah-marah. Secara impulsif, anak bisa menyerang orang lain dengan ancaman. Atau spontan melawan orangtua yang mengancamnya.

Itulah bahaya ancaman bagi anak. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, ancaman tetap memiliki nilai efektif, yaitu dapat menghilangkan perilaku yang spesifik, meskipun tidak bertahan lama. Andai bisa bertahan lama, yang ada di benak anak adalah ketakutan-ketakutan atau kekhawatiran-kekhawatiran. Inilah yang disebut sebagai bahaya jangka panjang dari ancaman.

sumber : rudicahyo.com

a memorial in nurul islam wanayasa

Posted by Pro Aktif On 10/03/2016